Selasa, 26 Februari 2013

Bulimia Nervosa


BULIMIA NERVOSA
MENURUNKAN SISTEM IMUNITAS TUBUH

ABSTRAK
Oleh : Ni Putu Ratih Purwani

Bulimia nervosa merupakan salah satu jenis kelainan makan yang melanda hampir 1,5% wanita usia reproduktif. Ciri penderita bulimia nervosa yaitu mengkonsumsi makanan dalam jumlah besar secara berulang-ulang, diikuti dengan perilaku memuntahkan kembali makanannya, melakukan olahraga yang berlebihan, menggunakan obat pencahar atau berpuasa secara tidak wajar dengan tujuan untuk menurunkan berat badan dan menghilangkan rasa bersalahnya karena telah mengkonsumsi banyak makanan.
Bulimia nervosa disebabkan oleh berbagai faktor, yaitu faktor fisiologis, faktor psikologis, dan faktor lingkungan. Faktor fisiologis berkaitan dengan fungsi perubahan biokimia dan pengaturan hormon di otak, faktor psikologis berkaitan dengan identitas diri, sedangkan faktor lingkungan berkaitan dengan pengaruh pergaulan atau karena adanya tekanan dari luar dengan tujuan untuk mempertahankan bentuk tubuh agar tetap ideal.
Salah satu efek  buruk yang ditimbulkan akibat perilaku bulimia nervosa adalah terjadinya penurunan fungsi imun tubuh yang dapat mengakibatkan lemahnya daya tahan tubuh penderita bulimia. Penurunan fungsi imun tubuh tersebut dapat dilihat dari nilai komponen imun seluler yang menurun dan terjadinya gangguan fungsi sistem imun alami penderita. Pengukuran terhadap sistem imun seluler dilihat dari nilai limfosit CD 2 dan CD 4 yang rendah. Selain itu, nilai leukosit, limfosit, netrofil dan monosit penderita bulimia juga lebih rendah 20% - 45% dibandingkan orang normal.
Melihat masalah tersebut diperlukan penanganan yang tepat dalam rangka mencegah kebiasaan makan yang salah ini. Diantaranya dengan memberi pengetahuan yang tepat kepada kelompok sasaran pelaku bulimia serta memberi perhatian dan terapi secara psikologis.







BAB I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang
Bulimia nervosa didefinisikan sebagai kebiasaan makan di mana penderitanya mengkonsumsi sejumlah makanan dalam jumlah sangat besar, kemudian mengeluarkan kembali makanan yang telah dikonsumsi dengan cara memuntahkan kembali atau dengan cara lainnya untuk mengurangi jumlah kalori makanan yang telah masuk ke dalam tubuhnya.
Bulimia nervosa  melanda sekitar 1,5% wanita usia reproduktif. Dari 100.000 populasi, 13 wanita menderita bulimia nervosa per tahun. Dengan menggunakan kriteria diagnosis yang lebih ketat, rata-rata prevalensi bulimia nervosa diperkirakan sekitar 1000 per 100.000 (1%). Sedangkan pada kelompok pria, insiden bulimia hanya terjadi 1/10 dari insiden pada kelompok wanita, yaitu sebesar 0,1%.1 Sebagian besar alasan melakukan bulimia nervosa yaitu untuk memuaskan keinginan makan tanpa harus meningkatkan berat badan. Hal inilah yang menyebabkan mengapa sebagian besar penderita bulimia nervosa adalah kaum wanita.
Salah satu dampak yang ditimbulkan akibat perilaku bulimia yaitu dapat mempengaruhi sistem imunitas tubuh.2,3 Sistem imunitas merupakan gabungan sel, molekul, dan jaringan yang berperan dalam resistensi terhadap infeksi.4 Sistem imun diperlukan tubuh untuk mempertahankan keutuhannya terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan oleh berbagai bahan dalam lingkungan hidup.4 
Asupan makanan berperan penting terhadap sistem imunitas tubuh, karena untuk membentuk sistem imunitas tubuh diperlukan berbagai zat gizi. Asupan makan yang tidak optimal dapat menyebabkan malnutrisi. Malnutrisi merupakan salah satu faktor penyebab dari menurunnya imunitas tubuh seseorang.5 Pada penderita bulimia nervosa, makanan yang telah masuk ke dalam tubuh akan dikeluarkan kembali sebelum sempat dicerna dan diabsorpsi oleh tubuh. Akibatnya, tubuh tidak mendapatkan asupan zat gizi sesuai dengan kebutuhannya sehingga mekanisme pembentukan dan pertahanan sistem imunitas di dalam tubuh menjadi terganggu. Malnutrisi dapat mengganggu sistem imunitas selular sejak tahap awal.5 Selain itu, dapat juga mengganggu sistem imun humoral, sel fagosit dan sistem komplemen.6
Hal tersebutlah yang mendasari ditulisnya makalah “Bulimia Nervosa Menurunkan Sistem Imunitas Tubuh”, di mana di dalamnya akan membahas mengenai peranan zat gizi dalam pembentukan sistem imun tubuh, kecukupan zat gizi dan keadaan status gizi penderita bulimia, serta pembahasan mengenai mekanisme penurunan sistem imunitas yang terjadi pada penderita bulimia nervosa.
B.            Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah tersebut, maka rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini:
1.        bagaimana peran zat gizi dalam pembentukan sistem imunitas tubuh?
2.        bagaimana kecukupan zat gizi dan keadaan status gizi penderita bulimia nervosa?
3.        bagaimana mekanisme penurunan sistem imunitas tubuh yang terjadi pada penderita bulimia nervosa?
C.           Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan makalah ini yaitu
1.      menjelaskan peran zat gizi dalam pembentukan sistem imunitas tubuh;
2.      menjelaskan kecukupan zat gizi dan keadaan status gizi penderita bulimia nervosa;
3.      menjelaskan mekanisme penurunan sistem imunitas tubuh yang terjadi pada penderita bulimia nervosa.













BAB II
LANDASAN TEORI

A.           Bulimia Nervosa
1.             Pengertian
Bulimia nervosa didefinisikan  sebagai kebiasaan mengkonsumsi makanan dalam jumlah banyak (binge) dan mengeluarkan kembali makanan yang sudah dikonsumsi (purge). Bulimia diambil dari kata “bull” (ox) yang berarti sapi jantan. Kata ini digunakan untuk menggambarkan kondisi yang sangat lapar disertai nafsu makan yang sangat besar dan dalam jumlah banyak. Secara normal, makanan yang telah masuk akan dicerna dan diabsorpsi oleh tubuh, namun pada penderita bulimia nervosa, makanan tersebut akan dikeluarkan kembali dengan sengaja untuk mengurangi jumlah kalori yang masuk.8
2.             Gejala dan Penyebab Bulimia Nervosa
Sebagian besar penderita bulimia nervosa adalah kelompok usia belasan akhir dan 20an awal.1 Bulimia nervosa dapat ditemukan pada semua kelas sosial. Sangat jarang penderita bulimia nervosa yang mengkonsumsi makanan dalam porsi normal. Ketika sedang berada di tempat umum, penderita bulimia cenderung akan mengkonsumsi makanan dalam jumlah sangat sedikit, namun ketika sedang berada dalam periode makan banyak (binge episode), mereka dapat mengasup makanan dalam jumlah besar mulai dari 1000 hingga 50.000 kkal.9 Jenis makanan yang dikonsumsi cenderung tinggi lemak dan karbohidrat, seperti es krim, donat, cake, cookies, milkshake dan cokelat. Mereka mengkonsumsi makanan dengan tujuan untuk memenuhi keinginan makan (memenuhi keinginan secara emosional saja), tanpa mempertimbangkan nilai gizi makanan tersebut. 
Beberapa hal yang menyebabkan penderita bulimia nervosa mengkonsumsi makanan dalam jumlah banyak yaitu kondisi depresi,  stress, frustrasi, kebosanan serta bisa juga disebabkan karena melihat makanan yang dapat meningkatkan keinginannya untuk makan. Setelah mengkonsumsi makanan dalam jumlah banyak, penderita bulimia cenderung akan merasa gelisah, depresi dan merasa bersalah sehingga mereka akan melakukan berbagai cara untuk kembali mengeluarkan makanan yang telah dikonsumsi dalam jumlah banyak tadi.8
Salah satu cara yang paling sering digunakan yaitu dengan memuntahkan makanan yang telah dikonsumsi. Namun tidak jarang juga ada yang menggunakan obat laxative dan diuretik.8 Beberapa penderita bulimia berusaha melakukan diet ketat selama beberapa hari hingga beberapa minggu, di sela-sela kebiasaan makannya yang berlebih. Namun ketika diet ketat gagal dilakukan, penderita bulimia ini cenderung akan kembali mengkonsumsi makanan dalam jumlah banyak dan berlebihan.10
3.             Kriteria Diagnosis
Ada 3 kriteria yang bisa digunakan untuk mendiagnosis bulimia nervosa menurut DSM IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder), 1994 1,8:
a.       persentasi frekuensi makan dalam jumlah besar serta ketidakmampuan penderita untuk mengontrol kebiasaan makannya dalam jumlah banyak. Biasanya antara 1000-2000 kkal;
b.      frekuensi perilaku yang dilakukan untuk mengontrol berat badan dan bentuk tubuh dengan cara mengeluarkan makanan yang telah dikonsumsi, seperti penggunaan obat laxative, diuretik atau dengan memuntahkan makanan. Minimal kebiasaan tersebut dilakukan dua kali dalam seminggu selama 3 bulan;
c.       melihat kebiasaan/perilaku yang dilakukan untuk mengontrol berat badan (selain dengan mengeluarkan makanan) yaitu dengan melakukan aktivitas fisik/olahraga serta berpuasa secara berlebihan.
Menurut DSM IV, terdapat 2 macam bulimia yaitu purging bulimia dan non-purging bulimia. Purging bulimia ditandai dengan penggunaan bahan kimia untuk mengosongkan lambung dan mengeluarkan makanan dari dalam tubuhnya, seperti penggunaan obat laxative dan diuretik, sedangkan non-purging bulimia cenderung menggunakan cara-cara alami seperti dengan berpuasa atau olahraga secara berlebihan.8
4.             Pengaruh Bulimia Nervosa terhadap Fisiologis Tubuh
Komplikasi fisiologis pada penderita bulimia nervosa dapat mempengaruhi hampir di setiap sistem dalam tubuh. Mulai dari masalah terkecil seperti luka pada jari tangan yang disebabkan karena seringnya digunakan untuk merangsang memuntahkan makanan hingga masalah besar yang bersifat sistemik seperti gangguan elektrolit dalam tubuh akibat dari kebiasaan mengeluarkan makanan yang terus menerus.11
Kebiasaan mengonsumsi makanan dengan porsi besar dalam waktu singkat  pada penderita bulimia dapat menyebabkan terjadinya pembesaran ukuran lambung secara akut, yang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman. Hal ini juga akan mengakibatkan terjadinya inflamasi pada pankreas, luka pada daerah bagian perut dan terjadi peregangan ukuran perut, serta peningkatan kecepatan detak jantung karena pankreas harus bekerja ekstra keras untuk mencernakan makanan dalam jumlah banyak sekaligus.12
Kebiasaan memuntahkan makanan menyebabkan terjadinya luka dan pengikisan pada esophagus karena pengaruh asam lambung, menyebabkan pengikisan lapisan gigi, memicu gangguan pada gusi dan proses menelan karena akan berpengaruh terhadap produksi air liur (saliva). Akibat lainnya yaitu dapat menyebabkan kehilangan cairan tubuh, dehidrasi dan gangguan keseimbangan elektrolit. Penderita bulimia juga dapat merasakan haus yang berlebihan disertai dengan penurunan jumlah pengeluaran urin dari  dalam tubuh, hal ini akan menyebabkan terjadinya pembengkakan (edema) karena adanya resistensi (penahanan) air di dalam tubuh. Seringnya memuntahkan makanan juga dapat mengakibatkan kehilangan ion natrium, kalium dan klor dari dalam tubuh yang dapat menimbulkan gangguan jantung.13 Kematian yang disebabkan karena bulimia nervosa diperkirakan sekitar 3%.14  Sering juga terdapat keluhan terjadi penurunan sensitivitas indera pengecap, hal ini disebabkan karena seringnya reseptor pengecap terpapar oleh asam lambung yang ikut keluar saat penderita bulimia memuntahkan makanannya, sehingga fungsi kerjanya ikut menurun.15  
Penggunaan laxative dalam waktu lama dapat menyebabkan penurunan fungsi kolon. Selain itu, penggunaan obat-obatan laxative dan diuretic juga dapat menyebabkan gangguan keseimbangan cairan dalam tubuh, keseimbangan elektrolit, dehidrasi, malabsorpsi, kram pada perut dan kram otot.11
B.            Sistem Imunitas
1.             Pengertian
Imunitas adalah adanya resistensi terhadap penyakit, terutama penyakit infeksi. Sistem imun merupakan gabungan sel, molekul dan jaringan yang berperan terhadap resistensi  infeksi. Sistem imun diperlukan tubuh untuk mempertahankan keutuhannya terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan hidup.4
2.             Klasifikasi Sistem Imun
Secara umum, sistem imun terdiri atas sistem imun alamiah (nonspesifik) dan sistem imun didapat (spesifik).
a.             Sistem Imun Nonspesifik
Sistem imun ini selalu ada pada tubuh yang normal dan sehat, siap mencegah mikroba yang akan masuk ke dalam tubuh dengan cepat. Disebut nonspesifik karena tidak ditujukan terhadap mikroba tertentu, telah ada dan siap berfungsi sejak lahir. Tidak menunjukkan kekhususan terhadap bahan asing tertentu dan mampu melindungi tubuh terhadap banyak patogen potensial. Terdiri atas sistem pertahanan fisik, biokimia, humoral, dan selular.
-          Sistem pertahanan fisik : kulit, selaput lendir, silia (rambut getar), saluran nafas, batuk dan bersin;
-          Sistem pertahanan biokimia : pH asam dari keringat dan berbagai asam lemak yang dilepas oleh kulit yang dapat mendenaturasikan protein mikroba, lisozim dalam keringat, air ludah (saliva), air mata, ASI, asam lambung, pH yang rendah pada vagina, spermin dalam sperma dan mukus kental;
-          Pertahanan humoral : komplemen, interferon dan protein fase akut
-          Pertahanan selular : fagosit, makrofag, sel natural killer (NK) dan sel mast yang berperan dalam reaksi alergi
b.             Sistem Imun Spesifik
Sistem imun spesifik mempunyai kemampuan mengenal benda yang dianggap asing. Disebut spesifik karena sistem imun ini hanya dapat menyingkirkan benda asing yang sudah dikenal sebelumnya. Benda asing yang pertama kali masuk ke dalam tubuh akan segera dikenali oleh sistem imun spesifik sehingga terjadi sensitasi sel-sel sistem imun tersebut. Benda asing yang sama, bila terpajan ulang akan dikenal lebih cepat, kemudian dihancurkan. Sistem imun spesifik terbagi menjadi 2 bagian, yaitu sistem imun spesifik humoral dan sistem imun spesifik selular.


1.      Sistem imun spesifik humoral
Pemeran utama dalam sistem imun spesifik humoral adalah limfosit B atau sel B. Bila sel B dirangsang oleh benda asing, sel tersebut akan berproliferasi, berdiferensiasi dan berkembang menjadi sel plasma yang memproduksi antibody. Fungsi  utama antibody ini adalah  pertahanan terhadap infeksi infeksi ekstraselular, virus dan bakteri serta menetralisir toksinnya.
2.        Sistem imun spesifik selular
Limfosit T atau sel T berperan pada sistem imun spesifik selular. Fungsi utama sistem imun spesifik selular ialah untuk pertahanan terhadap bakteri yang hidup intraselular, virus, jamur, parasit dan keganasan. Sel yang berperan pada imunitas selular adalah sel CD4+ yang mengaktifkan sel Th1 agar mengaktifkan makrofag untuk menghancurkan mikroba. Selain itu, terdapat pula sel CD8+ yang berperan untuk memusnahkan sel terinfeksi.








BAB III
PEMBAHASAN MASALAH

a.             Peran Zat Gizi dalam Pembentukan Sistem Imunitas Tubuh
Sistem imun berfungsi untuk melindungi tubuh dari infeksi bakteri, virus, jamur dan parasit yang berasal dari lingkungan serta berbagai zat berbahaya lainnya. Zat gizi memiliki peranan penting dalam pembentukan sistem imun tubuh.  Pada orang yang mengalami masalah gizi kurang (undernutrisi), baik defisiensi zat gizi makro, seperti defisiensi energi, maupun zat gizi mikro, terjadi penurunan fungsi imun di dalam tubuhnya.
Malnutrisi disebabkan karena adanya defisiensi berbagai zat gizi. Defisiensi salah satu zat gizi makro saja dapat berakibat pada defisiensi zat gizi lainnya, seperti vitamin dan mineral. Beberapa vitamin yang berperan dalam pembentukan sistem imun tubuh yaitu vitamin A, beta karoten, asam folat, vitamin B6, vitamin B12, vitamin C, vitamin E, vitamin B2, zat besi, seng dan selenium.16 Salah satu komponen zat gizi yang terpenting dalam pembentukan sistem imun adalah lipid (lemak). Asam lemak berperan dalam pembentukan limfosit dan sel-sel imun lainnya. Kini, banyak terapi yang menggunakan berbagai jenis lemak makanan sebagai terapi untuk mengatasi penyakit yang terkait dengan proses inflamasi, seperti penyakit autoimun.17 Zat gizi yang mengandung antioksidan berperan dalam menyeimbangkan oksidan di dalam sel-sel imun sehingga melindungi sel dari stress oksidatif.18 Defisiensi energi dan protein juga dapat menurunkan jumlah dan kemampuan kerja sel leukosit polymorfonuklear.19
b.             Kecukupan Zat Gizi dan Keadaan Status Gizi Penderita Bulimia Nervosa
Kecukupan zat gizi penderita bulimia nervosa jelas lebih rendah bila dibandingkan dengan keadaan orang normal, hal ini disebabkan karena pada penderita bulimia, makanan yang telah masuk ke dalam tubuh akan dikeluarkan kembali sebelum sempat dicerna oleh tubuh. Akibatnya kebutuhan tubuh akan zat gizi tidak dapat terpenuhi dengan baik. Keadaan status gizi penderita bulimia nervosa diukur dengan  melakukan pengukuran antropometri seperti pengukuran tinggi badan, berat badan, berat badan ideal, persentasi berat badan ideal dan indeks massa tubuh (IMT). Dari penelitian yang dilakukan, diperoleh bahwa terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara hasil pengukuran antropometri penderita bulimia nervosa dengan orang normal. Rata-rata IMT penderita bulimia masuk dalam kategori nilai normal, namun cenderung mendekati batas minimal IMT normal.
Kebiasaan memuntahkan atau mengeluarkan kembali makanan dari dalam tubuh pada penderita bulimia nervosa dapat menyebabkan terjadinya kehilangan cairan tubuh, dehidrasi dan gangguan keseimbangan elektrolit. Gangguan keseimbangan elektrolit disebabkan karena kehilangan ion natrium, kalium dan klor dari dalam tubuh yang dapat menimbulkan gangguan jantung.13



c.              Mekanisme Penurunan Sistem Imunitas Tubuh pada Penderita Bulimia Nervosa
Seperti yang telah diketahui, pada penderita bulimia nervosa, makanan yang telah dikonsumsi dikeluarkan kembali dengan beberapa cara seperti dimuntahkan, menggunakan obat laxative maupun obat diuretic. Selain itu, beberapa penderita bulimia nervosa juga sering menggunakan cara alami seperti sengaja berpuasa dalam waktu lama maupun melakukan olahraga secara berlebihan untuk menghilangkan rasa bersalah karena telah mengkonsumsi makanan dalam jumlah banyak. Secara tidak langsung, semua usaha yang dilakukan oleh penderita bulimia nervosa akan mempengaruhi jumlah asupan zat gizi yang diperlukan oleh tubuh.
Kekurangan zat gizi akan mengganggu berbagai proses metabolisme di dalam tubuh, mulai dari mengganggu fungsi kerja sistem organ, hingga tingkat sel bahkan komponen genetik. Pengukuran status gizi pada penderita bulimia dapat dilakukan melalui pengukuran antropometri. Salah satu pengukuran antropometri yang baik untuk digunakan yaitu pengukuran indeks massa tubuh (IMT).
Pada sebuah penelitian yang dilakukan terhadap penderita bulimia nervosa dengan membedakan efek kategori IMT dan periode muntah terhadap status gizi dan status imunitasnya, ditemukan bahwa pada penderita bulimia nervosa yang memiliki nilai IMT normal, tidak ditemukan kejadian malnutrisi, kecuali penderita bulimia yang memang memiliki berat badan rendah (IMT <19 kg/m2). Nilai limfosit pada penderita bulimia nervosa yang mengeluarkan makanan dengan cara muntah lebih rendah dibandingkan dengan penderita bulimia yang mengeluarkan makanan tidak dengan muntah. Pada penderita bulimia dengan IMT< 19 memiliki nilai CD57 sebesar 22% sedangkan pada kelompok IMT normal (>19), nilai CD57 sebesar 55%. Penderita bulimia dengan IMT<19 memiliki nilai CD4 yang lebih rendah dibandingkan dengan penderita bulimia dengan IMT>19. Nilai limfosit dan neutrofil pada kelompok bulimia nervosa dengan berat badan rendah juga lebih rendah dibandingkan dengan kelompok bulimia nervosa dengan berat badan ideal. 2
Vitamin A, beta karoten, asam folat, vitamin B6, vitamin B12, vitamin C, vitamin E, vitamin B2, zat besi, seng dan selenium merupakan beberapa zat gizi yang berperan dalam pembentukan sistem imun tubuh.16 Pada penderita bulimia nervosa, adanya defisiensi beberapa zat gizi tersebut sangat mungkin terjadi. Hal ini disebabkan karena pada penderita bulimia, makanan dikeluarkan kembali sebelum sempat dicerna oleh tubuh. Akibatnya sel-sel pembentuk sistem imunitas tubuh akan kekurangan “bahan baku”, dan pembentukan imunitas menjadi tidak optimal.
Menurunnya status imunitas pada penderita bulimia nervosa menyebabkan penderita bulimia menjadi mudah terkena infeksi. Dalam kondisi seperti ini, terjadi mekanisme yang cukup kompleks antara sitokin, sistem hormon dan sistem saraf pusat dalam rangka beradaptasi terhadap kondisi keterbatasan asupan gizi di dalam tubuh penderita bulimia, yang berakibat pada keterbatasan melindungi tubuh dari gejala infeksi.


BAB IV
KESIMPULAN

Dari pembahasan yang telah dijelaskan sebelumnya, dapat disimpulkan :
1.             Zat gizi memiliki peranan penting dalam pembentukan sistem imunitas dalam tubuh manusia. Beberapa jenis zat gizi yang berperan antara lain lemak, vitamin A, beta karoten, asam folat, vitamin B6, vitamin B12, vitamin C, vitamin E, vitamin B2, zat besi, seng dan selenium.
2.             Penderita bulimia nervosa dapat dibagi menjadi 2 kategori, yaitu bulimia dengan berat badan di bawah normal (IMT<19) dan berat badan normal (IMT>19). Tidak ditemukan status malnutrisi pada penderita bulimia nervosa dengan IMT>19.
3.             Mekanisme penurunan sistem imun tubuh pada penderita bulimia nervosa terjadi karena kurangnya zat gizi yang masuk ke dalam tubuh akibat kebiasaan mengeluarkan kembali makanan yang telah dikonsumsi sebelum dapat dicerna dan diabsorpsi oleh tubuh. Hal ini akan mengurangi pasokan zat gizi yang dibutuhkan untuk pembentukan sistem imun tubuh, akibatnya terjadi penurunan staus imunitas, di antaranya mempengaruhi nilai limfosit, netrofil, CD 57, dan kegagalan fungsi sitokin.




DAFTAR PUSTAKA

1.             Fairburn,C,G. dan A.J.Hill. 2005. Eating Disorder. Dalam Human Nutrition 11th Edition. London : Elsevier Churchill Livingstone, 509-512.
2.             Marcos A, Pilar Varela, Olga Toro, et al. Evaluation of Nutritional Status by Immunologic Assessment in Bulimia Nervosa: Influence of Body Mass Index and Vomiting Episodes. Am J Clin Nutr 1997;66:491S-7S.
3.              Marcos A, Pilar Varela, Irene Santacruz, and Asuncion Munoz-Velez. Evaluation of Immunocompetence and Nutritional Status in Patients with Bulmia Nervosa. Am J Clin Nutr 1993;57:65-9.
4.             Baratawidjaja,Karnen Garna. 2006. Imunologi Dasar Edisi ke-7. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
5.             Miller K. Nutrition and Immunity. Nutr Bull 1987;49:32-40.
6.             Dowd PS, Heatley RV. The Influence of Undernutrition on Immunity. Clin Sci 1984;66:241-8.
7.             Chandra RK. 1988.  Nutrition and Immunology. New York: Alan R Liss Inc.
8.             Worobey,J. 2006. Eating Disorder Syndromes: Anorexia and Bulimia Nervosa. Dalam Nutrition and Behavior, A Multidisciplinary Approach. India : CABI Publishing.
9.             Johnson CL, Stuckey, MK Lewis,  LD and Schwartz DM. Bulimia : a descriptive survey of 316 cases. International Journal of Eating Disorders 2 1981:3-15.
10.         Booth DA. 1994. Psychology of Nutrition. London : Taylor and Francis.
11.         Greenfield, D., Mickley, D., Quinlan, DM. and Roloff,P. Hypokalemia in Outpatients with Eating Disorders. American Journal of Psychiatry 1995:152(1),60-63.
12.         McClaim, CJ., Humphries, LL., Hill, KK and Nickl NJ. Gastrointestinal and Nutritional Aspects of Eating Disorders. Journal of the American College of Nutrition 1993:12(4).466-474.
13.         Hill, K. and Pomeroy, C. Assessment of Physical Status of Children and Adolescent with Eating Disorders and Obesity. In:Thompson,J.K. and Smolak,L. (eds) Body Image, Eating Disorders, and Obesity in Youth: Assessment, Prevention, and Treatment. American Psychological Association 2001, Washington,DC pp.171-191.
14.         Hetherington,MM. 2000. Eating Disorders: diagnosis, etiology and prevention. Nutrition 16,547-551.
15.         Rodin,J.  et al. Bulimia and taste: possible interactions. Journal of Abnormal Psychology 99(1), 32-39.
16.         Grimble RF (1997): Effect of antioxidative vitamins on immune function with clinical applications. Int. J. Vit. Nutr. Res. 67,312–320. and Chandra RK (2002): Nutrition and the immune sistem from birth to old age. Eur. J. Clin. Nutr. 56,S73–S76. Pada jurnal Changes in the immune sistem are conditioned by nutrition. European Journal of Clinical Nutrition (2003) 57, Suppl 1, S66–S69.
17.         De Pablo MA & Alvarez de Cienfuegos G. Modulatory effects of dietary lipids on immune sistem functions. Immunol. Cell. Biol 2000:78, 31–39.
18.         Victor VM & De la Fuente M. N-acetylcysteine improves in vitro the function of macrophages from mice with endotoxininduced oxidative stress. Free Rad. Res. 2000:36, 33–45.
19.          Suskind, RM. Malnutrition and the Immune Response.
20.         Marcos A, E Nova and A Montero. Changes in the immune sistem are conditioned by nutrition. European Journal of Clinical Nutrition (2003) 57, Suppl 1, S66–S69.

KEP pada Lansia dan Pasien Geriatri di Rumah Sakit


EPIDEMIOLOGI GIZI

KEKURANGAN ENERGI PROTEIN PADA LANSIA
dan
PASIEN GERIATRI DI RUMAH SAKIT



Oleh :
1. Ni Putu Ratih P.                     (G2C008050)
2. Nina Sakinah                          (G2C008051)
3. Novita M. S.                          (G2C008052)
4. Nur Widianti                           (G2C008053)
5. Putri K.P.                               (G2C008054)
6. Putri S. P.                               (G2C008055)
7. Raysa T.S.                              (G2C008057)
8. Renjani Gina R.                       (G2C008058)
9. Reni S.                                    (G2C008059)

PROGRAM STUDI ILMU GIZI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2009


KEKURANGAN ENERGI PROTEIN
PADA PASIEN GERIATRI DI RUMAH SAKIT

Malnutrisi energi protein merupakan gangguan yang sering terjadi pada lansia. Malnutrisi energi menyebabkan tidak tercukupinya kebutuhan protein di mana secara fisiologis keadaan ini dapat dilihat dengan hilangnya massa lemak bebas. KEP yang terjadi dengan bertambahnya usia akan mempengaruhi massa otot, kelemahan fisik dan gangguan sistem imun, sehingga meningkatkan angka kesakitan dan kematian pada lansia karena besarnya resiko infeksi dan adanya penurunan kemampuan fungsional.
Prevalensi kasus kekurangan energi protein pada pasien geriatri di rumah sakit dilaporkan cukup tinggi. Perkiraannya antara 20 – 78% pada lansia yang dirawat secara medis. Kasus ini sering ditemukan pada pasien, baik yang mengalami penyakit akut maupun penyakit kronis yang berhubungan dengan konsentrasi hiperkatabolik protein visceral. Malnutrisi merupakan  faktor resiko utama yang berpengaruh terhadap komplikasi dan pemulihan kesehatan pada lansia yang dirawat di rumah sakit. Penelitian melaporkan bahwa peningkatan frekuensi malnutrisi selama dirawat di rumah sakit meningkat disebabkan karena adanya penyakit kronis. Angka peningkatan frekuensi malnutrisi ini sebesar 16% saat opname ,menjadi 22% saat keluar . Studi lain melaporkan sekitar 16% - 26% setelah 1 minggu keluar dari rumah sakit.
Terjadinya kekurangan energi protein pada pasien geriatri salah satunya disebabkan karena lamanya perawatan di rumah sakit. Selain itu, banyaknya lansia yang mengalami kekurangan gizi juga disebabkan karena kondisi penyakit yang kronis. Saat terkena penyakit yang kronis, sebagian besar protein dibakar untuk menghasilkan energi yang diperlukan tubuh. Karena asupan diet yang rendah, akibatnya lean body mass lah yang akan digunakan/dirombak sebagai sumber energi tubuh. Hal ini mengakibatkan terjadinya deplesi lean body mass . Pasien yang menderita deplesi lean body mass akan lebih susah untuk sembuh jika suatu saat terkena penyakit akut, dibandingkan dengan mereka yang status gizinya baik. 71% terjadinya resiko kematian pada lansia disebabkan karena status gizi yang buruk. Oleh karena itu, intervensi gizi yang baik perlu dilakukan untuk melakukan pencegahan terhadap hal ini.
Beberapa faktor resiko yang memiliki hubungan dengan terjadinya malnutrisi pada lansia yaitu :
1.      Usia
Bertambahnya usia menyebabkan terjadinya penurunan kemampuan fungsional seperti penurunan fungsi hormon, imunitas, dll. Menurunnya fungsi imun tubuh menyebabkan lansia memiliki resiko tinggi untuk mengalami penyakit kronis dan infeksi . Selain itu, penambahan usia berhubungan juga dengan penurunan fungsi organ tubuh sepeti: dyspraxia fungsi makan (spt: mengunyah dan menelan; perubahan interpretasi bau dan rasa dan penolakan untuk makan).
2.      Infeksi
Infeksi merupakan faktor penyebab sekaligus faktor yang dapat memperparah kondisi malnutrisi pada pasien. Saat mengalami infeksi, diperlukan sumber zat gizi yang penting dalam jumlah cukup banyak untuk meningkatkan fungsi imunitas tubuh. Jika selama terjadi infeksi hal ini tidak terpenuhi, maka akan berujung pada kondisi kekurangan energi protein.
3.      Komplikasi penyakit
Komplikasi penyakit lambat laun akan mengurangi jumlah cadangan energi dalam tubuh.
4.      Asupan gizi
Kurangnya asupan energi dan protein dalam jangka waktu panjang akan menimbulkan hilangnya massa lemak bebas.
5.      Lamanya perawatan di rumah sakit
Kemungkinan berkaitan dengan gangguan psikologis yang menyebabkan hilangnya berat badan. Banyak penelitian yang sudah membuktikan bahwa pada pasien rawat inap yang telah sembuh dari sakitnya, sebagian besar mengalami kondisi undernutrisi. Hasil penelitian ini didasarkan pada pengukuran terhadap protein serum, pengukuran secara antropometri dan pengukuran berat badan. Penyakit kritis dan perawatan di rumah sakit mengakibatkan stress katabolik, anorexia, dan immobilisasi, yang memperburuk status nutrisi pada lansia. Pada keadaan istirahat, seperti tidur di kasur atau tidur di kursi , dapat menyebabkan penurunan massa otot ≤ 1.5%/hari.
6.      Rendahnya kesejahteraan sosial dan rendahnya kualitas hidup
Rendahnya kesejahteraan sosial dan kualitas hidup berkaitan erat dengan kondisi KEP. Salah satu contohnya yaitu pada golongan dengan pendapatan rendah, mungkin tidak mampu untuk membeli bahan makanan yang sesuai kebutuhan saat mereka sakit. Makanan yang dibbeli hanya asal kenyang saja, tanpa memperhatikan nilai gizinya.
7.      Penyakit kronis
Pada pasien yang mengalami penyakit kronis, sebagian besar protein dibakar untuk menghasilkan energi yang diperlukan oleh tubuh. Karena asupan diet yang rendah, akibatnya lean body mass lah yang akan digunakan/dirombak sebagai sumber energi tubuh. Hal ini mengakibatkan terjadinya deplesi lean body mass .
Untuk mengidentifikasi apakah pasien tertentu tergolong KEP atau tidak, maka dilakukan pengukuran-pengukuran, di antaranya pengukuran antropometri (pengukuran beerat badan, tinggi badan, LILA dan LOLA), indeks BMI, riwayat penyusutan berat badan dan pengukuran secara biokimia yakni pengukuran kadar serum (albumin, total protein, dan total kolesterol). Selain itu, dilakukan juga pengukuran terhadap pengaruh kebiasaan merokok, alkohol, status fungsional, tingkat pendidikan, dan tingkat keparahan penyakit.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan di bidang gizi, peneliti telah menemukan cara baru menghitung indeks status gizi pada lansia, mengingat fisik lansia umumnya tidak memungkinkan untuk dapat berdiri tegak jika akan dilakukan pengukuran tinggi badan, selain itu mereka juga memiliki berat badan yang tidak ideal  lagi, sehingga sulit untuk mendapatkan data yang akurat. Oleh karena itu, digunakanlah suatu metode baru penghitungan status gizi pada lansia, disebut dengan GNRI (Geriatric Nutritional Risk Index). GNRI merupakan suatu metode pengukuran rumus berat badan biasa dengan berat badan ideal menurut rumus Lorentz (WLo) pada lansia yang dapat digunakan di rumah sakit.
Rumus yang digunakan :
( 1,489 x albumin g/L) + (41,7 x berat badan )‏
Perhitungannya dapat dilakukan dengan mengetahui berat badan dan kadar albumin darah pasien. Dari hasil pengukuran ini kemudian ditentukan status gizinya dengan mengacu pada tetapan berikut :
Resiko tinggi jika : GNRI = 82
Resiko sedang jika : GNRI = 82-92
Resiko rendah jika : GNRI = 92-98
Tidak beresiko jika : GNRI = 98
Kondisi KEP memiliki hubungan yang erat dengan kejadian penyakit lainnya, di antaranya : penyakit paru obstruksi, gagal jantung, gagal ginjal kronis, demensia, dan stroke.
  1. Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK)
Prevalensi gizi buruk dilaporkan bervariasi antara 20% - 70% untuk berbagai kelompok pasien dengan PPOK dan emfisema . Malnutrisi pada pasien dengan PPOK disebabkan karena ketidakseimbangan antara pengeluaran energi dan asupan makanan. Sebuah penelitian melaporkan bahwa pada pasien PPOK  yang mengalami kehilangan berat badan memiliki angka kelangsungan hidup lebih pendek 5 tahun  (rata-rata  dari 3 tahun) dari pada pasien PPOK tanpa kehilangan berat badan.
  1. Stroke
Sekitar 8-16% pasien stroke menunjukkan tanda-tanda KEP pada saat menderita stroke dan lebih dari 80% pasien yang dirawat selama lebih dari 21 hari karena stroke mengalami kesulitan makan . Efek dari stroke pada banyak aspek fungsi dapat memberikan kontribusi terhadap terjadinya gangguan nutrisi pada pasien. Dalam waktu 2 minggu pasien stroke (87%) baru memperoleh kembali kemampuan untuk menelan sehingga menyebabkan KEP. Kelumpuhan dan adanya perubahan indra penciuman dan rasa. Fase katabolik yang akut menyebabkan penurunan status gizi  yang cepat bagi banyak pasien stroke. Malnutrisi pada pasien stroke dikaitkan dengan peningkatan  tingkat infeksi, luka baring ,waktu pengobatan yang makin panjang , dan meningkatnya angka kematian .
  1. Gagal jantung kronik
Prevalensi PEM sehubungan dengan gagal jantung kronis, yaitu, jantung cachexia , bervariasi antara 10% - 25%, tergantung pada jenis-kegagalan jantung pasien. Mekanisme patologisnya yaitu , nafsu makan berkurang atau perasaan penuh cepat, hipertensi portal sekunder dengan stasis vena di splanchnic hepatik-daerah dengan dispepsia, malabsorpsi lipid dan kehilangan protein dalam usus, dan kelainan pada kinetik catecholamine. KEP menyebabkan hypotrophy otot jantung dalam bagian  hypotrophy dari otot rangka . KEP pada pasien dengan gagal jantung kronis dikaitkan dengan peningkatan angka kematian.
  1. Demensia
Malnutrisi terjadi pada 12-50% dari pasien yang terdata dengan gangguan demensia . Demensia menyebabkan berkurangnya asupan energi, sebagian karena menurunnya nafsu makan.Demensia juga menyebabkan lansia menjadi sering lupa makan. Sebuah penelitian longitudinal  selam 6 tahun menyatakan  bahwa berat badan berkorelasi dengan derajat dan perkembangan DAT (salah satu tipe penyakit Alzheimer) dan kematian, sedangkan kenaikan berat badan ini berkaitan dengan penurunan risiko kematian.
TREATMENT GIZI
Treatment gizi nyata memberikan efek positif  pada pasien yang mengalami sakit kronis, pasien nonmalignant (penyakit tidak menular) dengan manifest KEP atau resiko KEP. Terapi gizi dapat dilakukan dengan:
  TERAPI DIET : berhasil menaikkan BB rata-rata 3,5 kg
  Berdasarkan penelitian epidemiologi Prospective: mempertahankan berat badan setelah menopause merupakan faktor yang signifikan dalam mencegah patah tulang (pencegahan terhadap osteoporosis)
SUPLEMEN ORAL
Suplemen oral ini diberikan dalam dua periode.
Periode 1 : pengaruh suplementasi terhadap peningkatan asupan protein dan energi secara signifikan tidak ada perbedaan antara kelompok intervensi dengan kelompok kontrol.
Periode 2 : terjadi peningkatan asupan protein dan energi yang signifikan pada kelompok intervensi tetapi tidak terjadi pada lansia kelompok kontrol bahkan pada kelompok ini asupan protein dan energinya cenderung lebih rendah bila dibandingkan kelompok intervensi
  TERAPI HORMONAL : dilakukan dengan pemberian hormon pertumbuhan pada pasien (growth hormone). Ternyata memberi dampak positif terhadap penurunan resiko terjadinya malnutrisi pada lansia dan psien geriatri.



DAFTAR PUSTAKA

  1. Longjian Liu , Melinda M.Bopp, et al. Undernutrition and Risk of Mortality in Elderly Patients Within 1 Year of Hospital Discharge. Journal of Gerontology: MEDICAL SCIENCES In the Public Domain 2002, Vol. 57A, No. 11, M741–M746.   
  2. Olivier Bouillanne, Gilles Morineau, et al. Geriatric Nutritional Risk Index: a new index for evaluating at-risk elderly medical patients. Am J Clin Nutr 2005;82:777– 783.
  3. Dennis H. Sulivan, MD, Melinda M. Bopp, Bs, Paula K. Roberson, PhD. Protein Energy-Undernutrition And Life-Threatening Complication Among The Hospitalized Elderly. J GEN INTER MED 2002;17:923-932.
  4. Asa M. Brantervik, et al. Older hospitalised patients at risk of malnutrition: correlation with quality of life ,  aid from the social welfare system and length of stay? Age and Ageing doi:10.1093/ageing/afi125.
  5. Emmanuelle E.Fabre,et al. Gene Polymorphisms of oxidative stress enzymes : prediction of elderly renutrition. Am J Clin Nutr 2008;87:1504-1512.
  6. Cécile Bos, Robert Benamouzig, Anne Bruhat, Christian Roux, Sylvain Mahé, Paul Valensi, Claire Gaudichon, Françoise Ferrière, Jacques Rautureau, and Daniel Tomé. Short-term protein and energy supplementation activates nitrogen kinetics and accretion in poorly nourished elderly subjects. Am J Clin Nutr 2000;71:1129–37.
  7. Gunnar Akner and Tommy Cederholm. Treatment of protein-energy malnutrition in chronic nonmalignant disorders. Am J Clin Nutr 2001;74:6-24.  
  8. Patrick Ammann, Sandrine Bourrin, Jean-Philippe Bonjour, Jean-Marc Meyer, and Rene´ Rizzoli. Protein Undernutrition-Induced Bone Loss Is Associated with Decreased IGF-I Levels and Estrogen Deficiency. J Bone Miner Res 2000;15:683–690.
  9. Isabelle Bourdel-Marchasson,et al. Functional and metabolic early changes in calf muscle occurring during nutritional repletion in malnourished elderly patients. Am J Clin Nutr 2001;73:832-838.